September 22, 2017

September 14, 2017

Di Persimpangan

Di depan pagi kita tengadah
Memicingkan mata menatap surya
Di depan pagi pula
Banyak harap diuntai ke hadap-Nya
Di depan pagi
Ada berjuta cerita yang akan dirangkai
Melewati banyak waktu berjuta-juta malam
Ketika banyak kisah disimpan bersama senja
Menunggu kala di persimpangan
Antara senja dan malam
Antara fajar dan terik siang
Antara kamu dan aku
Yang berdiri di antara.

(Kupang, 14.09.2017)

Santi Mallida

Share:

August 18, 2017

Cerita di ujung telepon [part 1]

Baru kemarin rasanya aku punya mimpi yang sama seperti para wanita lainnya, memiliki seseorang yang bisa diandalkan ketika punya masalah ataupun hanya sekedar ingin ditemani. Tetapi sekarang, nampaknya mimpi itu terlalu cepat dirangkai. Dan Mimpi itu sekarang sudah menguap secara serentak bahkan tanpa jejak.

Adalah kamu dan aku yang sejatinya tidak pernah bisa bersatu namun memaksa untuk berdiri bersama memandang masa depan. Hanya saja ada yang ganjil disitu, ketika coba kuingat kembali kata-katamu padaku.
"Kamu dan aku selamanya akan seperti ini. Bercanda bersama, menikmati waktu berdua" ucapmu disuatu malam.

Di panggilan telepon lainnya, kamu berkata padaku, "aku tidak mau jauh dari kamu, aku bahkan tak bisa bayangkan itu. Aku hanya ingin tetap bertahan dengan keadaan seperti ini" katamu perlahan.

Aku pun hanya bisa diam tanpa tahu apa yang harus kujawab. Aku bahkan ingin sekali berteriak dengan semangatnya bahwa aku pun ingin hal yang sama sepertimu. Aku bahkan ingin memilikimu.Tapi kembali aku tersadar bahwa aku salah.aku telah memilih jalan yang salah. Kesalahanku cukup banyak hingga membuatku pada akhirnya memutuskan untuk mengurangi kebiasaan-kebiasaan yang pernah kita lakukan dulu. Kebiasaan- kebiasaan itu lah yang pada akhirnya membuat aku luluh bahkan sempat menggoyahkan kekuatan yang sudah aku bangun sejak tiga tahun silam.

Sejak saat itu, aku sudah memutuskan untuk tidak lagi bergantung pada orang lain terlalu banyak, tidak ingin lagi menyerahkan semua hati yang kumiliki untuk makhluk yang bernama pria. Aku ingin menjadi wanita yang mandiri akan cinta, mandiri akan hidup nya sendiri. Tapi kamu datang dan menggoyahkan benteng yang sudah kubangun dengan susah payah. Dan sekarang ketika aku sadar dan ingin menjauh, kamu bertanya padaku" kog gak pernah telepon lagi?" Tanyamu polos.

Jujur, aku sedang dilema. Berada pada posisi yang tidak menguntungkan aku seperti ini membuatku mati kutu. Kamu dengan ceritamu yang luar biasa membuatku membuatku ingin menyambung kembali cerita ini tapi aku sendiri bahkan tidak ada ide untuk menjawab pertanyaanmu. Layaknya seorang penulis yang buntu ide cerita, nah seperti itulah posisiku. Tak menemukan jalan keluar dari labirin cerita yang kubangun sendiri.

.....
(Bersambung)

Share: